Inteligensi dan IQ

Inteligensi dan IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Mengenal Persepsi, Ilusi, dan Halusinasi

Kita tentu sering sekali mendengar istilah persepsi, ilusi, maupun halusinasi. Pada ilmu kejiwaan, kata-kata tersebut sangat akrab bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya. Tapi apa sebenarnya persepsi, ilusi, dan halusinasi ditinjau dari sisi kejiwaan ?
Persepsi adalah hasil interaksi antara dua faktor, yaitu faktor rangsangan sensorik yang tertuju kepada individu atau seseorang dan faktor pengaruh yang mengatur atau mengolah rangsangan itu secara intra-psikis. faktor-faktor pengaruh itu dapat bersifat biologis, sosial, dan psikologis. Karena adanya proses pengaruh-mempengaruhi antara kedua faktor tadi, di mana di dalamnya bergabung pula proses asosiasi, maka terjadilah suatu hasil interaksi tertentu yang bersifat "gambaran psikis".
Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat meng-interpretasikan suara gemerisik daun-daun sebagai suara yang mendekatinya. Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi, maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif.
Ilusi terjadi dalam bermacam-macam bentuk, yaitu ilusi visual (penglihatan), akustik (pendengaran), olfaktorik (pembauan), gustatorik (pengecapan), dan ilusi taktil (perabaan).
Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan pada reseptor-reseptor panca indera. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi tanpa obyek.
Halusinasi merupakan suatu gejala penyakit kejiwaan yang gawat (serius). Individu mendengar suara tanpa adanya rangsangan akustik. Individu melihat sesuatu tanpa adanya rangsangan visual, membau sesuatu tanpa adanya rangsangan dari indera penciuman.
Halusinasi sering dijumpai pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba. Halusinasi juga dapat terjadi pada orang normal, yaitu halusinasi yang terjadi pada saat pergantian antara waktu tidur dan waktu bangun. Hal ini disebut halusinasi hypnagogik.
Bermacam-macan bentuk halusinasi
Halusinasi akustik (pendengaran)
Halusinasi ini sering berbentuk :
• Akoasma, yaitu suara-suara yang kacau balau yang tidak dapat dibedakan secara tegas
• Phonema, yaitu suara-suara yang berbentuk suara jelas seperti yang berasal dari manusia, sehingga penderita mendengar kata-kata atau kalimat kalimat tertentu
Halusinasi visual (penglihatan)
Penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi visual sering menimbulkan ketakutan yang hebat pada penderita.
Halusinasi olfaktorik (pembauan)
Penderita membau sesuatu yang tidak dia sukai. Halusinasi ini merupakan gambaran dari perasaan bersalah penderitanya.
Halusinasi gustatorik (pengecap)
Halusinasi gustatorik murni jarang dijumpai, tetapi sering terjadi bersama-sama dengan halusinasi olfaktorik.
Halusinasi taktil (perabaan)
Halusinasi ini sering dijumpai pada pencandu narkotika dan obat terlarang.
Halusinasi haptik
Halusinasi ini merupakan suatu persepsi, di mana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan manusia lain atau benda lain. Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba.
Halusinasi kinestetik
Penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya, mengalami perubahan bentuk, dan bergerak sendiri. Hal ini sering terjadi pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba.
Halusinasi autoskopi
Penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya.
Penderita Schizophrenia sangat perlu dikasihani karena penderitaan yang dialaminya. Tetapi mengapa banyak orang memilih untuk mengubah hidupnya yang indah dan berharga dengan memakai narkoba dan mengalami berbagai macam gangguan kejiwaan yang serius ? Tak seorangpun yang tahu ...

seni di tangan anak down syndrome

eni memang dikenal sebagai bahasa universal. Buktinya, anak-anak penderita down syndrome atau memiliki keterlambatan mental dan fisik ternyata juga mampu berekspresi lewat melukis, menari, bahkan bermain musik.

Inilah salah satu aksi tari kecak dari sejumlah anak yang mempunyai kelainan genetika down syndrome. Dengan lemah gemulai mereka membawakan tari kecak layaknya penarik kecak asal Bali.

Sedikitnya 300 anak penyandang kelainan genetika down syndrome ambil bagian dalam acara yang diprakarsai oleh Ikatan Syndrome Down Indonesia (ISDI).
Tidak hanya pandai menari dan menyanyi, sejumlah anak down syndrome ini juga menampilkan hasil karya seni lain seperti seni lukis. Mereka juga bisa membawakan sejumlah alat musik seperti piano dan anglung.

MENINGKATKAN DAILY LIVING SKILL PADA ANAK DOWN SYNDROME DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MODELLING

Down Syndrome atau sindrom down merupakan kelainan kromosom, yaitu terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21) akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan Anak down syndrome biasanya kurang bisa mengkoordinasikan antara motorik kasar dan halus. Seperti misalnya kesulitan menggenakan pakaian berkancing dan memasang sepatu bertali sendiri. Anak down syndrome dan anak normal pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dalam tugas perkembangan, yaitu mencapai kemandirian. Namun, perkembangan anak down syndrome lebih lambat dari pada anak normal. Jadi diperlukan suatu terapi untuk meningkatkan kemandirian anak down syndrome. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk melatih motorik halusnya melalui behavior therapy dengan teknik modelling. Teknik modelling adalah satu teknik yang menunjukkan terjadinya proses belajar melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karena adanya peniruan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan daily living skill pada anak down syndrome dengan menggunakan teknik modelling.

Subyek pada penelitian ini terdiri atas 2 anak. Subyek pertama (S) adalah seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dan subyek kedua (T) adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun dan bersuku jawa. Kedua subyek tersebut dilaporkan oleh orangtua dan guru mereka. Orangtua S mengeluhkan bahwa S masih belum bisa menulis, dan mandiri, seperti mengenakan pakaian yang berkancing, menali sepatunya sendiri, dan menggosok gigi. Sedangkan keluhan dari pihak guru, S masih belum bisa memegang pensil dengan benar. Sedangkan orangtua T mengeluhkan bahwa T belum bisa menggosok gigi dan menyisir rambutnya sendiri Hasil asesment memperlihatkan bahwa mereka memiliki ciri_c,iri down syndrome, mempunyai kemampuan kognitif yang tergolong retardasi mental sedang, kesulitan mengkoordinasikan gerakan mata dan tangan, serta kemampuan daily living skill tergolong rendah. Selain karena keterbatasan subyek, rendahnya daily living skill subyek dikarenakan pola asuh orangtua yang selalu memanjakan dan melayani semua kebutuhan subyek.

Hasil intervensi memperlihatkan bahwa teknik modelling dapat meningkatkan daily living skill pada kedua subyek. Terapi perilaku dengan teknik modelling memberikan perubahan pada kedua subyek secara positif meskipun belum optimal. Teknik modelling tidak dapat menyelesaikan permasalahan subyek secara utuh yang berhubungan dengan kondisi emosi subyek dan pola asuh orangtua. Untuk menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh dapat dilakukan dengan memberikan intervensi lanjutan. Terus mengajari anak dengan memberikan contoh dalam melakukan aktifitas sehari-hari dapat membantu meningkatkan daily living skill mereka.

Terapi pada anak down syndrome

emampuan motorik halus seringkali tertinggal di belakang kemampuan motorik kasar. Anak-anak diajarkan keterampilan praktis. Keterampilan yang diajarkan disesuaikan dengan keinginan dan tingkat kemudahan aktivitas menurut anak. Keterampilan individual ini seringkali lebih cepat dipelajari karena anak sangat termotivasi.

Intervensi tidak difokuskan terlalu banyak pada penyusunan puzzle dan balok namun dikonsentrasikan pada keterampilan untuk menolong diri sendiri seperti berpakaian, latihan buang air, serta berbagi dengan anak-anak lain. Latihan motorik halus membantu penderita SD meningkatkan keterampilan koordinasi mata dan tangan serta sejumlah keterampilan akademik dini.

Penderita SD mempunyai kesulitan bicara. Terapi wicara mengajarkan anak-anak SD bagaimana cara berkomunikasi. Dinilai pemahaman, penggunaan bahasa, perkataan reseptif dan perkataan ekspresif, serta kejelasan bicara. Juga membantu anak-anak yang mempunyai kesulitan makan. Sejak berusia 1 tahun, dapat dimulai pengajaran untuk menjaga agar lidahnya tetap di dalam mulut dengan komunikasi verbal atau pun dengan sentuhan. Setelah itu berilah pujian. Dengan cara-cara ini, biasanya anak sudah berhenti memcucurkan air liur pada waktu mereka berusia 4 tahun. Diperhatikan kemampuan kognitif dini seperti mencocokkan dan memilah bentuk dan warna. Keterampilan akademik dini pada akhirnya mendasari keterampilan membaca, menulis, dan mengerjakan bilangan. Juga dilatih untuk dapat mengerjakan keterampilan yang membutuhkan konsentrasi dan menanamkan kebiasaan bekerja pada anak-anak sejak usia dini. Karena kemampuan anak-anak SD sangat bervariasi, keberhasilan di sekolah akan sangat bervariasi juga, sehingga evaluasi yang dilakukan pada anak-anak SD harus dilakukan secara individual.

Deteksi dan pengobatan secara dini penting dilakukan segera setelah lahir karena kekurangan hormon ti-roid pada masa pertumbuhan otak (0-2 tahun) dapat mengakibatkan gangguan intelektual yang menetap.

Perbedaan autisme dengan aspeger

Akhir-akhir ini semakin banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standar diagnosa DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spektrum Autis.

Selain ada perbedaan di antara keduanya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis klasik yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeda (varying degree), bisa dari mild, moderate, to severe.

Tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 - 3 tahun, anak asperger baru bisa terdekteksi, biasanya pada saat berumur di antara 6-11 tahun.

Tidak seperti kebanyakan anak autis, anak asperger memang tidak menunjukkan keterlambatan bicara, punya kosa kata yang sangat baik, walaupun agak sulit untuk mengerti bahasa "humor dan ironi". Mereka pun kebanyakan mempunyai intelligence yang cukup baik bahkan di atas rata-rata.
Oleh karena itu biasanya secara akademik, biasanya mereka tidak bermasalah, dan mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum dengan baik.

Sedangkan penyandang autis klasik, sebagian besar terdiagnosa mempunyai IQ dibawah normal bahkan masuk kategori moderate mental retardasi.

Tantangan terbesar bagi penyandang asperger adalah dalam hal bersosialisasi dan berinter-aksi.
Pada umumnya, anak asperger suka untuk berteman, walaupun dengan gaya bahasa dan mimik yang formal dan terlihat "aneh". Mereka sulit memulai percakapan dan sulit mengerti makna dari interaksi sosial.

Kesulitan anak asperger dalam bersosialisasi dapat/akan membuat mereka menjadi sangat stress di sekolah. Banyak kendala akan ditemukan pada saat anak asperger memasuki masa remaja /akil-balik (SMP/SMU).

Untuk menghadapi masalah itu, orang tua disarankan untuk segera mencari ahli yang profesional (care dan knowledgable) dan melakukan intervensi yang diperlukan se-segera mungkin dengan berterus terang kepada guru (pendidik) dan kepala sekolah dengan melihatkan atau membawa referensi dari ahli tsb.

Tanpa pemberitahuan dari orang tua, pihak sekolah dan teman-teman anak asperger sulit untuk mengetahui bahwa mereka "berbeda" karena anak asperger tidak mudah dikenali seperti halnya anak autis klasik. Hal inilah biasanya yang dapat menjadi pemicu berbagai masalah serius pada anak asperger.

Walaupun sebagian orang menganggap bahwa asperger adalah mild autis (autis ringan), treatment dan intervensi tetap harus dilakukan. Sebagian besar program2 terapi untuk anak asperger biasanya bersifat direct teaching / langsung di dibuat untuk memperbaiki skill yang mereka belum kuasai misalnya di-bidang sosialisasi, mengerjakan/menyelesaikan pekerjaan sekolah dan cara membagi waktu (time management). Anak asperger juga akan sangat terbantu jika banyak dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti belajar dalam kelompok kecil (support group), sport club, dimana mereka dapat berlatih, share experience mereka dan saling belajar dari teman mereka. Ada juga satu terapi yang cukup baik untuk anak asperger yaitu terapi RDI (Relationship Development Intervention) didevelop oleh Dr. Steven Gutstein.

autisme aspeger

Autisme kelompok Asperger sering juga disebut sebagai Asperger Syndrome, asal kata dari nama Dr Hans Asperger, seorang dokter anak dari Austria. Dr Hans Asperger mengemukakan tentang gejala anak-anak autisme kelompok ini di tahun 1944. Karena artikelnya dalam bahasa Jerman, barulah pada tahun 1981 dikenal secara internasional setelah Lorna Wing dari Inggris membawanya dalam kongres Autisme dengan bahasa Inggris. Hans Asperger menggambarkan pasien-pasiennya itu adalah anak-anak dengan usia 6 – 12 tahun, tidak mengalami keterlambatan bicara, sangat pandai, tetapi sangat sulit mengikuti pelajaran, dan sangat eksentrik. Hans Asperger menyebut kelompok anak-anak ini dengan nama autistic psychopatic. Tetapi sebutan ini oleh Lorna Wing diganti dengan nama Asperger Syndrome, karena ada kelompok lain yang dikemukakan oleh Kanner dari Amerika di tahun 1943 yang disebut sebagai infantil autism atau autisme masa kanak. Autisme kelompok Dr Kanner ini diketahui 80 persennya mengalami gangguan perkembangan inteligensi yang parah. Sisanya mempunyai inteligensi yang normal namun mengalami gangguan di beberapa area inteligensi yaitu mengalami keterbatasan dalam kemampuan analisa, sintesa, kemampuan abstraksi, dan pemecahan masalah.


Autisme adalah gangguan perkembangan majemuk, yaitu gangguannya dapat mengenai beragam aspek perkembangan seorang anak. Gangguannya tidak hanya menyangkut jumlah berapa aspek yang terkena (secara kuantitatif) tetapi juga beratnya aspek yang terkena (kualitatif). Karena itu gangguan autisme dari satu anak ke anak lain mempunyai gambaran yang beragam. Aspek perkembangan yang terganggu itu adalah gangguan komunikasi (verbal dan non-verbal), interaksi sosial, dan gangguan perilaku (perilakunya repetitif dan stereotipik atau diulang-ulang dengan pola yang sama). Karena begitu beragamnya dan gejalanya berubah bersamaan dengan berjalannya usia, orang menjadi sering kesulitan membaginya secara tegas dalam kelompoknya masing-masing, kemudian orang menyebut semua kelompok autisme itu dengan nama Autism Spectrum Disorder (ASD).


Pada kelompok masa kanak dari Dr Kanner, adalah anak-anak autisme yang mengalami keterlambatan bicara, sebagian besarnya mengalami gangguan inteligensi yang parah, sedang sisanya mempunyai inteligensi yang baik dan dapat berfungsi relatif lebih baik daripada yang mempunyai inteligensi yang parah. Karena itu kelompok yang mempunyai fungsi lebih baik ini disebut sebagai kelompok autisme yang berfungsi tinggi. Sedang dari kelompok itu juga ada anak-anak autisme yang jika dilihat melalui kriteria autisme dari DSM IV, ia tidak memenuhi seluruh kriteria yang tersedia, namun mempunyai batas minimal sejumlah kriteria[1] (lihat buku Gangguan Majemuk Autisme PDDNOS, dari Dir. PSLB). Kelompok ini disebut autisme tidak khas atau tidak spesifik yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai PDD-NOS (Pevasive Development – Not Otherwised Specified). Sedang yang memenuhi kriteria autisme tadi disebut sebagai kelompok autisme klasik.


Kelompok autisme Asperger sendiri dalam DSM IV dikelompokkan tersendiri di bawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) bersama kelompok yang lain yaitu: Autistic disorder, Asperger’s Disorder, PDD-NOS, Rett’s Disorder, dan Child Integrative Disorder. Ketiga pertama tadi (Autistic Disorder, Asperger’s Disorder, dan PDD-NOS) dijadikan sebuah spectrum bernama Autistic Spectrum Disorder.


Jadi jika kita mendapatkan anak kita dengan diagnosa ASD, artinya kita tidak tahu kelompok anak kita adalah kelompok anak yang mana. Karena ASD merupakan spectrum yang panjang dengan gejala autistik dari yang ringan hingga yang parah. Dengan gangguan yang paling sedikit (dalam batasan diagnosa autisme) pada aspek perkembangannya hingga yang paling banyak. Dari yang mempunyai gangguan perkembangan kognitif yang ringan hingga yang parah.
Sekalipun ada yang mengatakan bahwa kelompok PDD-NOS ataupun Asperger Syndrome adalah kelompok yang mempunyai gangguan yang ringan (bila dibandingkan dengan anggota kelompok PDD lainnya), tetap anak-anak ini mempunyai gangguan perkembangan yang terbilang parah jika dibandingkan dengan kelompok anak normal. Karena ia menyangkut banyak aspek perkembangan yang sifatnya menetap seumur hidup. Karena itu dikatakan bahwa gangguan autisme mempunyai prognosa atau perkiraan ke depan yang kurang menguntungkan dan memerlukan pendampingan terus menerus. Walaupun begitu kelompok Asperger dan PDD-NOS mempunyai prognosa yang lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok autisme klasik.


Asperger syndrome sendiri, merupakan salah satu kelompok yang dalam DSM IV dinyatakan sebagai kelompok yang tidak mengalami keterlambatan bicara, dan mempunyai inteligensi yang baik, normal hingga tinggi. Peter Vemuelen (2002) seorang ahli pendidikan anak berkekhususan dari Belgia dalam penelitiannya mendapatkan bahwa pada umumnya anak-anak autisme yang mempunyai inteligensi tinggi ini terdeteksi lebih terlambat bila dibandingkan dengan kelompok anak autisme klasik maupun PDD-NOS. Hal ini disebabkan karena kelompok Asperger Syndrome tidak mengalami keterlambatan bicara. Bahkan saat ia masih kecil seringkali disangka ia seorang anak cerdas istimewa karena sangat mudah menerima instruksi dan pandai. Namun dalam perjalanan sekolahnya saat sudah masuk ke sekolah dasar ia mengalami kesulitan karena keterbatasannya dalam kemampuan kreativitas, imajianasi dan fantasi, abstraksi, serta kemampuan pemecahan masalah.


Kelompok Asperger memang mempunyai keluarbiasaan tersendiri, banyak diantaranya yang mampu sampai jenjang universitas, bahkan menjadi doktor. Namun mempunyai bidang minatan yang sempit, dan sifatnya hanya mengkopi, menerima ilmu, menyimpannya, dan menampilkannya kembali. Jika mengamati hasil tes inteligensianya, akan nampak bahwa ia akan mendapatkan skor pada subtes informasi dalam verbal IQ yang sangat tinggi, tetapi kurang dalam kemampuan analisis.


Webb dkk (2005) menjelaskan bahwa pada dasarnya penyandang Asperger yang mempunyai kemampuan dan inteligensi yang tinggi mempunyai kesamaan dengan kelompok cerdas istimewa (gifted children), yaitu :
- Kedua kelompok (Asperger dan cerdas istimewa) sama-sama mempunyai memori luar biasa dan kemampuan bicara yang baik;
- mereka juga sama-sama selalu menanyakan sesuatu secara terus menerus;
- mereka membicarakan suatu bidang yang intelektual, dan sejak kecil mereka sudah mulai melakukannya;
- mereka sangat cepat menerima sesuatu yang diminatinya, selalu mencari tentang fakta-fakta dan pengetahuan tentang apa yang menjadi minatnya itu, sekalipun demikian seorang penyandang Asperger tidak membuat hubungan dengan makna yang ada dalam fakta dan pengetahuan itu;
- kedua kelompok sangat menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, sekalipun pada Asperger hal itu lebih kepada hal yang menurutnya logik daripada sesuatu yang menyangkut pada masalah yang emosional;
- kedua kelompok baik kelompok Asperger maupun kelompok cerdas istimewa mempunyai masalah konsentrasi karena mereka hanya ingin terfokus pada apa yang memang mereka ingin fokuskan sehingga diluar itu mereka mengalami kesulitan berkonsentrasi;
- kedua kelompok sama-sama mempunyai rasa humor yang datar/halus, mudah terangsang dengan stimulus (misalnya suara), tekstur, cahaya, bau-bauan, dan rasa;
- kedua kelompok sering dipandang oleh orang lain sebagai anak yang sangat halus, rentan, sensitif, dan berbeda;
- keduanya mempunyai pola perkembangan yang asinkroni (pada kelompok Asperger kondisi asinkroninya akan sangat ekstrim nampak pada perilakunya yang lebih aneh dan lebih bagai potongan puzzle yang tidak tahu dimana tempat yang pas baginya) ;
- keduanya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan model pendidikan konvensional;
- keduanya mempunyai masalah pada ketrampilan sosial, merasa tidak nyaman di tengah orang banyak;
- keduanya mempunyai kepribadian yang menarik diri.


Sekalipun ada persamaannya namun juga ada perbedaannya. Jika kita mencari-cari persamaannya kita akan menemukan persamaannya yang luar biasa banyak. Namun agar kita tepat memberikan pendidikannya, pengasuhan, dan intervensinya, perlu dilihat apa saja perbedaannya. Dalam hal ini Webb dkk (2005) juga memberikan acuannya.
Sebetulnya memang akan sangat sulit melihat perbedaan antara keduanya, sebab persamaannya memang banyak. Apalagi baik anak cerdas istimewa maupun anak Aspeger seringkali juga diikuti dengan gejala-gejala gangguan lainnya, seperti ADHD dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder), yang menyebabkan penegakan diagnosa menjadi semakin sulit. Sekalipun demikian, kita tetap perlu mengingat bahwa perkembangan seorang anak cerdas istimewa yang secara alamiah memang mengalami perkembangan yang tidak sinkron, dapat menyebabkan pola perilaku yang sering dipandang aneh, tidak sebagaimana anak normal. Namun pola perkembangan yang aneh ini pada anak-anak cerdas istimewa akan mengalami normalisasi perkembangan saat menjelang pubertas. Sementara itu pada kelompok Asperger akan mengalami gangguan yang kronis, terus menerus dan akan dibawanya hingga dewasa dan tua.


Dalam hal ini sangat penting artinya untuk meletakkan diagnosa yang tepat, sebab jika seorang penyandang Asperger hanya dianggap sebagai anak cerdas istimewa yang aneh dan terlalu sensitif, maka ia artinya tidak akan mendapatkan terapi yang tepat bagi masalah gangguan autismenya. Sebaliknya, jika seorang anak cerdas istimewa mendapatkan diagnosa Asperger, maka ia akan mendapatkan salah penempatan dalam pendidikannya, disamping juga mendapatkan berbagai terapi autisme yang sebetulnya tidak dibutuhkannya.

Nasihat Webb dkk (2005) ada dua kunci yang terpenting bagaimana agar kita dapat membedakan antara Asperger dan cerdas istimewa:

1. Amati dan lakukan pemeriksaan dengan teliti pada perilaku anak saat mana ia melakukan berbagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada teman-teman sebayanya.
Pada anak Asperger akan menunjukkan perilaku dimana ia mengalami kesulitan membangun kontak sosial dengan cara menarik perhatian teman sebayanya agar mendengarkan dan tertarik pada objek cerita yang disampaikannya. Cara penyampaiannya dengan cara yang kenakakan (terasa kurang matang), serta monoton. Ia akan bercerita terus tanpa memperhatikan apakah orang lain sudah bosan. Objek yang dibicarakannya juga seringkali tidak pada hal-hal yang bersifat sosial, misalnya tentang bermacam-macam mesin cuci, tentang planet, atau dinosaurus. Sebaliknya pada anak cerdas istimewa walau kadang membosankan namun ia juga mempunyai minat pada masalah budaya ataupun masalah kemanusiaan dan politik. Ia juga mencoba agar orang lain tertarik dengan apa yang dibicarakannya. Ia mengajak orang lain untuk memahami apa yang dipikirkannya. Pada kelompok Asperger tidak, karena ia sendiri karena keterbatasannya pada kemampuan berbahasa simbolik maka ia kesulitan membaca pikiran orang lain, sehingga ia juga mengalami kesulitan bagaimana agar orang lain tertarik pada apa yang menjadi pikirannya. Ia akan berbicara terus menerus tanpa menghiraukan apakah orang lain bosan apa tidak.
2. Amati dan periksa baik-baik pada waktu berbagi ilmu pengetahuan itu, apakah anak mempunyai intuisi untuk melihat orang lain dan juga apakah orang lain melihat pada dirinya.
Seorang anak cerdas istimewa pada dasarnya mempunyai intuisi yang tajam terhadap situsai sosial dan selalu ingin tahu apakah orang lain melihat dirinya atau tidak; sedang pada anak dengan Asperger Syndrome tidak mempunyai intuisi seperti ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang anak cerdas istimewa selalu sadar bahwa dirinya berada di tengah orang banyak dan sering justru mengalami stress jika ia tidak mampu menyesuaikan diri di tengah orang banyak. Ia sangat sensitif terhadap bagaimana pandangan orang lain. Anak cerdas istimewa bila mendapatkan teman yang seichwan, ia dapat berkomunikasi dengan baik dan akan terjadi komunikasi timbal balik yang bisa berisi muatan nuansa empathi dan emosi.

Kenyataan di lapangan juga sering terjadi bahwa anak-anak cerdas istimewa yang mempunyai kepribadian menarik diri, seringkali menerima diagnosa sebagai penyandang autisme Asperger. Bukan berarti bahwa jika didapati seorang anak yang menarik diri dan mengalami kesulitan bersosialisasi artinya ia adalah penyandang autisme. Sebab gangguan bersosialisasi dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Pada autisme gangguan bersosialisasi pada dasarnya disebabkan karena adanya gangguan atau keterbatasan pada emosi sosial dan keterbatasan kemampuan memahami bahasa mimik.

Dalam pendidikan, kesulitan anak autisme Asperger lebih disebabkan karena keterbatasannya dalam kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir analisa dan pemecahan masalah, hal-hal yang abstrak, serta kemampuan berfantasi dan imajinasi. Hal itu jugalah yang menyebabkan keterbatasan pada pengembangan bidang minatannya. Dengan kata lain, bidang minatannya sangat sempit. Dalam situasi sosial ia juga sangat kesulitan dalam situasi yang tak terstruktur seperti misalnya di lapangan bermain saat keluar main, di mana di lapangan segala hal dapat saja terjadi tanpa diduga.

Apabila kita mendapatkan anak kita mempunyai gejala-gejala yang tidak cocok sebaliknya sebagiannya juga cocok dengan baik gejala anak cerdas istimewa, dan juga penyandang Asperger, maka hal ini perlu diadakan pengamatan yang dalam, secara multidisiplin dalam berbagai bidang keilmuan terutama neurologi, psikatri psikologi, dan oryhopedagogi. Diharapkan semua profesi juga memahami masalah baik pada anak cerdas istimewa maupun pada anak autisme. Dalam hal ini bila mendapatkan anak dengan diagnosa Asperger dan kita ragu-ragu akan diagnosa tersebut, Web dkk (2005) juga memberikan beberapa beberapa butir dalam daftar di bawah ini (gejala di bawah ini adalah gejala untuk seorang anak cerdas istimewa):
- Menunjukkan adanya kemampuan hubungan interpersonal pada saat ia berbagi bidang minatnya.
- Mempunyai pengetahuan yang sangat dalam dan intensif dalam bidang yang diminatinya, tetapi tanpa perilaku yang berkaitan dengan Asperger.
- Akan sangat tertarik pada ide-ide yang abstrak, dalam situasi tak terstruktur, dan mampu membangun ide-ide yang inovatif.
- Mempunyai gerakan-gerakan yang atipikal namun dalam kontrol dan kesadaran
[2].
- Mempunyai gerakan yang aneh yang lebih disebabkan karena stress atau pelepasan enerji.
- Tidak mempunyai gangguan motorik.
- Mempunyai intuisi untuk membangun kontak emosi dengan orang lain dan kontak interpersonal dengan orang lain.
- Mempunyai emosi yang sesuai dengan topik pembicaraan.
- Dapat menunjukkan empathi dan simpathi dalam berbagai situasi.
- Gaya bicara dan humornya seringkali lebih mirip orang dewasa.
- Memahami humor dan menggunakan humor dalam situasi sosial secara timbal balik, bukan hanya humor sepihak saja, bermain kata, dan searah.
- Mempunyai kesadaran akan dirinya, dan sangat memahami apa akibat dari perilakunya terhadap orang lain bagi dirinya sendiri.
- Sadar bila diamati orang lain, dan tahu bagaimana perilaku akan memberikan efek -- Dapat mentoleransi bila tiba-tiba ada perubahan, atau bersikap pasif terhadap perubahan itu.
- Bisa memahami makna bahasa kiasan.
- Mengalami kesulitan perhatian bila suatu ide datang dari orang lain, daripada bila datangnya dari pikirannya sendiri.